Minggu, 06 Desember 2020
Jum'at Hari sibuk
Kamis, 26 Maret 2020
Diary wayah pageblug
Hari 1.
Rabu libur
Setelah membuat kwaci, tak terasa waktu merambat cepat. Pak RT, melalui grup WA mengabarkan pembuatan disinfektan dimulai dan beberapa satgas corona RT mulai berdatangan, bersiap melakukan penyemprotan dari rumah ke rumah. Bermaksud menyemangati, aku datangi rumah pak RT yang menerapkan protokol penangan corona dengan selalu menyediakan sabun dan keran mengalir di depan rumahnya. Sementara tanpa Salim, menerapkan jarak minimal satu meter juga dipatuhi.
Setiap tim Ada dua orang yang melakukan penyemprotan dari rumah ke rumah, yang menjadi sasaran utama penyemprotan adalah handle dan permukaan pintu, jendela, meja kursi.
Setelah menyaksikan penyemprotan di dua rumah, aku kembali ke rumah. Karena signal hp buruk, waktu lebih banyak digunakan untuk membaca Sapiens yang tak kunjung rampungðŸ¤.
Setelah sholat dzuhur baru ingat tentang rencana donor darah ke PMI. Akhirnya keluar ke PMI untuk donor. Gila ternyata tensiku masih tinggi 140/90. Untunglah batas bawahnya masih bisa ditolerir untuk melakukan donor. Begitupun hbnya 14,90. Kata mas petugasnya hb yang dimungkinkan untuk donor range nya antara 12-17 di bawah 12 atau di atas 17 nope. Kayak boleh. Akhirnya jadilah donor darah. Cepat sekali tidak sampai 15 menit sudah selesai. Pembuluhnya besar, begitu keterangan petugas waktu aku tanya kenapa cepat selesai. Petugas bertanya apa merasa pusing? Aku mencoba ngrasak-ngrasake, pusingkah diriku? Kemampuanku memahami tubuh kadang jongkok memang, jadi harus merem.sejenak, dan aman. Tidak pusing, tapi petugas tetap menganjurkan istirahat setidaknya 10 menit sebelum pulang. Yah lumayan, setelah di rumah tanpa signal, ketemu signal di Kota jadilah semua pesan wa yang sudah ratusan itu aku baca beberapa. Jadi tahu juga kalau di gudang KPU pemenang lelang akan mengangkut logistics Pemilu. Akhirnya aku putuskan untuk melihat proses itu.
Tapi menunggu di gudang sampai jam 16.00 ternyata mereka belum datang, akhirnya aku pamit pulang. Apalagi dalam postingan RT ada informasi rt 33 tanggap bencana sudah akan membagikan sembako untuk warga yang membutuhkan.
Lumayan, sampai rumah masih bisa membantu menyerahkan santunan ke beberapa warga yang membutuhkan.
Salam tangguh,
Sendang 26 Maret 2020
Sabtu, 02 Maret 2019
Kafir
Tahu terminologi kafir dzimmi dan kafir harbi sejak Aliyah, yang disampaikan oleh guru Fiqh. Tetapi sejak dulu sampai sekarang terminologi itu tidak pernah memperngaruhi cara pandangku terhadap orang-orang beda agama disekitarku. Buatku mereka ya sama saja denganku yang punya jalan keselamatannya sendiri. Karena buatku Tuhan bisa didekati dengan berbagai cara.
Terminologi kafir harbi (yang harus diperangi) malah muncul sebagai respon kelakuan para teroris, para koruptor yang ngerti agama tapi tidak merasa berdosa. Jangan-jangan mereka sedang merasa di Negara yang mereka kategorikan sebagai kafir harbi?
Buatku, inilah justru urgensi keputusan Munas NU tentang sebutan kafir kemaren menemukan urgensinya.
Selasa, 18 September 2018
Nasip Si Elang
Papa dan pertanyaan tentang menstruasi
Ayahnya hanya bengong dan tersenyum geli, "nanti kalau ada mama, tanya mama saja. Papa tidak tahu" Jawabnya. Maka kami kehilangan moment memberikan penjelasan tentang alat dan fungsi reproduksi.
Miniset
Papanya hanya menatapnya prihatin. Mama, berurai air mata sampai membatin. "ini baru permulaan Nak, masih banyak siksaan lainnya karena kamu perempuan"
Kamis, 07 Juli 2016
Alumni M3R Meramaikan kebun Siwalan.
Emak-emak kekinian.
Kalau ditanya siapa emak-emak ini? Sebut saja emak-emak alumni M3R. Jauh-jauh hari kami janjian hari kedua lebaran akan ngumpul di Rembang. Titik kumpulnya belum ditentutkan. Hanya pas saya, nunung, Ida ketemu dalam acara tahlilan di rumah Ienas pada hari selasa 4 juli 2016, kami memtuskan tempat ngumpulnya di rumah Ienas Tsuroiya.
Mula-mula saya dan Aida Muchiqqoh jalan dulu ke rumahnya mbak Emy Zulfa, karena kebetulan murid paling rajin di kelas kami dulu itu tidak ikut di grup WA, kami mau ajak dia untuk hadir dalam pertemuan bersejarah hari ini. Sayangnya, rumah mbak Emy kosong. Saya dan Ida akhirnya menjadi pendatang paling awal di rumah Ienas disusul Fathimatuz Zahro', disusul Nunung Rembang lalu Atik dan anak perempuannya.
Pada saat yang sama ada mas Aguk Irawan Mn dan istrinya yang ternyata alumni kelas belajar islam toleran dan alternatifnya LKiS, juga sedang bertamu di rumah Ienas, jadilah kami emak-emak dari dua rombongan yang berbeda itu ngobrol bersama, sambil menunggu satu persatu kloter emak-emak kekinian datang.
Rombongan terakhir mbak Asiamah datang pas kami sedang menjalankan ritus rutin wefie di deoan aula. Setelah selesai berfoto rupanya ada kawan kesayangan kami lek siti marhamah ternyata masih ada di Sawahan, maka kami bersatu padu meyakinkan Lek Siti agar sudi bergabung. Dengan setengah memaksa saya menjemput lek siti di mulut gang Kulit Sawahan. Sayangnya dalam perjalanan pendek dari gang mulut gang kulit ke leteh rok lek siti masuk ke dalam rantai motor. Untungnya kami berdua tidak apa-apa hanya rok lek siti ujungnya robek disana sini.
Selepas solat dzuhur kami berburu legen di desa Mondoteko. Kami menyepakati untuk bergabung dalam mobil Fathimatuz zahro' dan tentunya sekaligus disopiri oleh Fathimah.
Sampai di Desa Mondoteko mencari legen atau nira bukan perkara mudah. Pada lokasi yang sama, kami bersaing dengan pembeli yang lain. Nira yang mau kami beli belum tersedia, penderesnya baru akan mengunduh niranya.
Ada dua penderes nira yang keduanya sudah berusia tua dalam ladang dengan puluhan pohon siwalan yang kami datangi. Anak-anak mereka sudah tidak memiliki keahlian yang sama dengan orang tuanya. "Anak-anak muda lebih senang cari kerja ke utara daripada melanjutkan pekerjaan orangtuanya sebagai penders nira" kata anak penderes nira yang juga menunggu di ladang yang kami datangi.
Menunggu penderes mengambil nira dari potongan bumbung-bumbung bambu di atas pohon siwalan, menjadi pengalaman menarik buat kami. Pohon siwalan yang batangnya jauh lebih besar dibanding pohon kelapa dipanjat dengan menggunakan tali sebagai pegangan bagi penderes karena lengannya tidak cukup untuk memeluk batang pohon. Sang istri menunggu di bawah dengan alat saringan dan beberapa bumbung bambu, swmentara ami menunggu dengan beberapa botol air kemasan untuk diisi dengan nira yang baru di turunkan.
Saya berharap para penderesnya tidak mimpi buruk malam ini karena kedatangan tamu heboh macam kami.
Setelah mendapatkan enam sowan guru matematika kami pak qusairi.
Perjalanan kami akhiri dengan kembali lagi ke rumah Ienas.
Semoga tahun depan kita bisa bertemu lagi.

