Karas, sebuah Desa disebelah barat Kecamatan Sedan, katanya disitu buyut kalian dilahirkan. Mbah Mahbub, namanya.
Di Karas itulah keluarga besar Mbah Mahbub tin, ada pak de dan bude yang masih tinggal di sana. Jadi sejak kecil ayahku, kakek kalian, sering membawaku kesana. di belakang rumah pak De Harun, dulu adalah hutan dengan pohon-pohon besar, rimbun dan sejuk. Dari ruang belakang rumah Pak De Harun, aku masih melihat banyak kera-kera ekor panjang melompat dari satu pohon kepohon yang lain, dari satu ranting ke ranting lainnya. kadang-kadang aku berjumpa mereka dibebatuan kering yang menonjol diantara aliran sungai di sebelah timur rumah Pak De. Mereka sedang duduk berjemur, saling mencari kutu. Aku dan sepupu-sepupuku, anak-anak kecil yang keranjingan main air akan serta merta menjadi pengganggu yang menyebalkan bagi mereka, karena dengan segera mereka kabur dari tempat itu. Tak kusangka, tak berapa lama ketika aku SMP mereka tak lagi pernah kujumpai. Mereka hilang, bersamaan dengan masa dimana senapan angin dikenal di daerah itu. Beberapa kali, dengan sedih aku melihat kera-kera yang sudah mati menggelantung di sepeda pemburunya.
Hutan, binatang liar, air sungai yang jernih adalah satu hal yang aku ingat, selain tentu saja, menunggu kendaraan umum lewat yang sangat jarang, kelelahan karena harus "sedikit" berjalan dari karas dan Sedan. Aku sedih membayangkan kalian tak pernah melihatnya, bahkan untuk membayangkannya.
Karas berada dalam gugus pegunungan karst sepanjang blora, pati sampai rembang. Sejak lama penambang tradisional mengambil batu kapurnya, tetapi mereka hanya menjualnya dalam pikulan. Dua keranjang, seharian. itupun hanya disaat penting, menjelang hari raya atau 17 agustusan. Kenapa? Untuk melabur rumah-rumah, agar tampak cerah, karena rumah-rumah masyarakat waktu itu terbuat dari kayu yang bisa ditanam kembali. Tidak butuh batu untuk membuatnya, tidak butuh semen.
Kini anakku, kerakusan manusia perlahan tapi pasti menciptakan kebutuhan agar bisa menghancurkan. Lihatlah rumah-rumah di sepanjang jalan sedan Kragan Rembang dimana rumah Pak De dan Bu Lek kalian tinggal. Mungkin hanya rumah mereka yang terbuat dari kayu. Lainnya mengubah wajahnya jadi batu. Untuk daerah pantai seperti disana betapa panasnya rumah batu?
Anakku membangun rumah dari batu, membuat jalan dari batu, bukan tidak ada tumbalnya. Banyak anakku, bahkan kalau anak-anak tumbal "pembangunan" itu dikumpulkan, kalian bertiga mungkin akan membutuhkan waktu seumur hidup untuk mencatat luka kemelaratan yang mereka alami.
Bukit-bukit Karst menyimpan banyak keajaiban anakku, dulu waktu mama remaja, pernah suatu saat main ke Sule. di daerah itu, dibawah pepohonan hutan, ada goa besar. Diperutnya yang gelap, aku pernah merasakan air dingin mengalir di kakiku. Waktu masuk kesana aku takut, karena sinar tidak masuk kedalam, dan kami tidak menyangka akan bertemu sungai bawah tanah dalam perjalanan kami. Sumber penerangan yang sangat terbatas hanya dimiliki beberapa remaja lain yang saat itu sudah merokok. Mereka menggunakan korek apinya untuk menerangi sungai itu. Bayangan kolam luas yang sempat tertangkap mata itu begitu menakjubkan. Meski takut disaat itu, tetapi kenangan itu sekarang begitu berharga, begitu indah.
Saat ini, Bukit Kendeng di daerah sekitar Sale Rembang, (semoga bukan di daearah yang pernah kudatangi) di bagian pegunungan karst lainnya yang masih berfungsi bagai spon pengisap dan penyimpan air hujan akan dihancurkan oleh perusahaan pembuat semen. Anakku, kalau ini benar terjadi aku yakin kalian tak akan pernah melihatnya lagi. Sebuah keajaiban akan menghilang. Keajaibannya untuk menghidupi para petani, kejaibannya untuk memberi pasokan air bersih bagi warga masyarakat akan menghilang. Seperti warga Sedan yang dimusim kemarau harus berburu air bersih, karena sumur-sumur mereka mengering, karena bukit-bukit yang mereka punya telah dibabat habis atas nama pembangunan.
Saat ini, masyarakat Kendeng sedang mempertahankan alamnya, tanahnya, bukitnya, hutannya dan sumber penghidupannya. Mari kita menjadi bagian dari mereka, semampu kita.
Peluk cium,
Asa, Elang, Anya
Jakarta, 19042016
Jumat, 04 Maret 2016
Mengingat Pegunungan Karst Rembang ; Cerita kecil untuk anak-anakku
Rabu, 24 Februari 2016
Makam keramat Mbah Siti Chalimah
Ketika "'Menjelajah'' ingin kusematkan sebagai nama tengahku, ternyata sebutan itu belumlah cukup kusandang. Sebagai anak yang tidak bisa berhenti bergerak, aku terbiasa menjelajah. Aku dan sahabatku, bisa punya kegiatan gila jalan-jalan ke Kota Kudus untuk membeli kain agar bisa membuat baju seragam bertiga. Atau sengaja jalan kaki tanpa arah dan akhirnya meminta bantuan truk untuk ditumpangi pulang. Yang paling sering, menyambangi rumah teman yang sedang panen buah tertentu atau membuat makanan tertentu untuk sedekah bumi. Bahkan membuat pesta reuni kelas dengan mengarungi laut bermain di pulau tak berpenghuni.
Setelah 43 tahun umurku, aku baru tahu kalau di tempatku ada makam keramat. Makam seorang perempuan yang konon berasal dari Ternate dan murid dari Sunan Bonang.
Sayangnya sejarah perempuan istimewa ini sangat samar terbaca. Tidak ada cerita lisan, kecuali mitos-mitos akan kehadirannya lewat mimpi-mimpi sang juru kunci, apalagi cerita tertulisnya.
Kesamaran ceritanya berbanding terbalik dengan keajaiban makamnya. Makam Perempuan yang dikeramatkan ini dikitari oleh enam pohon giant, (kalau raksasa kurang mewakili kebesarannya). Empat diantaranya sangat dekat dengan makam. Ajaibnya akar pohon-pohon tersebut selalu menghindar dari jasad Mbah Chalimah disemayamkan.
Meskipun tidak banyak pemberitaan tentang keberadaan makam ini, tetapi peziarah yang datang berasal dari berbagai pelosok negeri. Menurut sang juru kunci, kedatangan mereka sebagian berasal dari isyarat mimpi. Mereka datang bertawassul atas rasa syukur, atas do'a dan harapan.
Makam yang terletak persis dipinggir pantai Desa Tanjungan tersebut saat ini berada dalam satu kompleks dengan madrasah diniyah dan masjid. (Ida 25 pebruari 2016)
Rabu, 29 Juli 2015
Cublek enthung
Cublek-cublek enthung
Cublek-cublek entung,
lir kangkung,
tak kate-kate wono,
sri bayem rojo tuwo,
seni sono domble,
kacang biru laut ketemu kene.
Sir-sir pong dele kopong,
sir-sirpong dele kopong.
Ini adalah versi lain syair cublak suweng yang kami nyanyikan dan mainkan permainanya waktu kecil. Saya terkejut, suatu hari anak kota dari Surabaya, Didit, menyanyikan syair cublek enthung yang berbeda dari syair yang biasa kami nyanyikan. Ketika saya sekolah SMP di kota dan mengenal tape dan kaset lagu anak-anak, secara jeli saya memperhatikan dan menghafal versi lain yang biasanya diberi judul cublak suweng.
Cublak-cublak suweng
Suwenge teng gelenter
Mambu ketundhung gudel
Tak empo lera lere
Sopo ngguyu ndelikake
Sir-sir pong dele kopong
Sir-sir pong dele kopong.
Saya dari desa di tlatah rembang, lasem. Daerah Pantura yang memiliki sejarah kejayaan kemaritiman. Bagi masyarakat mbelah, lidah kami lebih nyaman menggunakan akhiran e daripada a. Karena itu, mengubah kata cublak menjadi cublek lebih terasa nyaman di lidah kami.
Bagaimana kami memiliki versi sendiri tentang lagu ini tidak ada yang bisa menjelaskan dengan pasti. Enthung adalah kepompong. Kami sering menganggu jadwal bertapa enthung dengan membuka bungkusnya, agar bisa dimintai bantuannya sebagai penunjuk arah,
''enthung-enthung
Endi elor endi kidul''
(Enthung-enthung mana utara, mana selatan?)
Ulat pertapa agar bisa bermetamorfosa itu akan kaget karena distraksi pertanyaan kami, tubuhnya akan dijulurkan keluar dan menjawab pertanyaan kami dengan tarian menggeliat. Kami memaknai kepompong kagol itu sedang membantu memberikan jawaban atas arah yang ditanyakan.
Kata cublek biasanya dikaitkan dengan kegiatan menanam, tetapi menanam dalam media yang mudah ditanami ''mung kari nyublekke'' (cuma tinggal menanam). Cublek enthung bisa dimaknai sebagai menanam kebodohan. Lir kangkung. Kangkung yang lebih dikenal pada masa saya kecil adalah kangkung sawah, yang berkembang liar menjalar kemana-mana di atas air.
Kate adalah sejenis binatang atau tumbuhan yang dibonsai, menjadi kerdil. Hutan kerdil. Sribayem rojo tuwo menjadi semacam sindiran kepada kekuasaan yang ada di Mataram. Demikian juga dengan seni sono domble ....
Belakangan saya berpikir syair ini seperti perlawanan pada kekuasaan mataram islam yogyakarta, oleh masyarakat utara.
Tapi untuk saat ini, syair cublek enthung Pantura ini mungkin sangat cocok untuk mengambarkan berkembangnya masyarakat ''kerdil'' intoleran yang seolah dibiarkan saja oleh penguasa di Jogjakarta tercinta.(Hidayatut Thoyyibah 2016)
Rabu, 20 Mei 2015
Menjadi wartawan
Penulis adalah mimpinya, karena itu menjadi wartawan termasuk salah satu deretan teratas profesi yang diimpikan. Pengalaman menjadi wartawan yang melakukan observasi, riset dan wawancara tentu saja sudah berkali-kali dilakukan. Ketika menjadi reporter arena, bahkan ketika masa perploncoan pendidikan jurnalistik di arena waktu itu, dia sempat menjadi wartawan yang bertugas mencari berita di sepanjang Malioboro. Dengan mulut kelu dan gagu, terbata-bata bertanya kepada pelukis wajah yang menjajakan keahliannya di depan ramai mall. Dan anehnya tulisannya tidak berhasil memunculkan certita tentang pelukis wajah di malioboro, tapi justru tentang batinnya yang gagu mengikuti irama malioboro yang riuh.
Wawancara, observasi dan risetnya menjadi lebih sering digunakan dalam kerja-kerja penelitian yang dia lakukan. Untuk ini dia sangat berterimakasih pada mas Suaidi, mas Ons Untoro, Ciciek Farkha, Emanuel Subangun, Clarissa Adamson, Ljusi Margiyanj, Yasir Alimi, Alissa Wahid, dan banyak lagi guru, teman belajar, teman berkeluh dan tentu saja sahabat yang tidak menyadari bahwa cambukannyalah yang selalu melecutnya untuk menulis. Nida'us Saadah. :-) :-) . Oxfam, Acces dan akhirnya Koalisi Perempuan Indonesia Setnas, memberikan ruang buatnya untuk lebih banyak mengeksplor kemampuannya menulis dengan lebih banyak bersentuhan dengan Indonesia, dalam perjalapnan-perjalanannya.
Ruang yang kini diperolehnya adalah kontribusi besar yang diberikan ketiga anaknya, Asa, Elang dan Anya, dan tentu saja kontribusi Suyanto untuk mengambil peran sebagai bapak rumah tangga. Dia menyadari keluarganya jauh dari sempurna, tak ada yang ideal disana. Asanya yang sendiri, jauh dari peluknya. Rasa bersalahnya yang tak pernah habis pada Elang, rasa sesaknya karena membiarkan Anya kehilangan sosok perempuan dan ibu yang selalu memeluknya dan sedihnya memberikan gambaran tentang relasi setara bersama pasangannya. Semua itu adalah sebagian dari bobot kegelapan yang harus dia alami dalam dunia suka citanya, dalam kemewahan menekuni membaca buku-bukunya, meningkatkan kemampuan menulisnya, menikmati kegembiraan menyerap pengetahuan, berbagj pengetahuan dan menikmati kegembiraan menikmati kesendirian.
Selama ini perjalanan mewujudkan mimpinya seperti perjalanan air, yang mengarus pelan. Kebetulan-kebetulan dia nikmati dan manfaatkan. Seperti siang ini, bersama puluhan anak muda wartawan dia menunggu nara sumbernya di gedung bundar kejaksaan. Senyum kecil menyunggingbdi mulutnya antara ironi dan syukur. Ironi, ketika dia menyadari bahwa menunggu narasumber untuk dicatat dan diceritakan pernah menghiasi mimpi-mimpi mudanya dan bersyukur karena biarpun sejenak, dia pernah mendapat kesempatan untuk marasakan menjadi wartawan. (20 mei 2015)
Kamis, 07 Mei 2015
Lari dan lari
Senang melakukan kegiatan fisik. Siapa anak di desaku yang tidak begitu? Berenang di laut, berburu kacang mede pohon-pohon jambu mede di kuburan, bersepeda puluhan kilometer hanya untuk bisa ''ngopra'' (makan semangka yang diambil biji kwacinya sepuasnya) di sawah-sawah petani semangka demak, bermain yeye (permainan melompati jalinan karet gelang), gobak sodor, markas dan masih banyak lagi. Akupun begitu. Aku mampu melompat setinggi duakali tinggi tubuhku, bahkan naik pohon kelapa.
Tetapi seiring waktu kesukaan melakukan kegiatan fisik itu terhenti karena banyak hal. Ketika remaja, sekolah yang baru dan lingkungan yang berbeda dan tidak menyediakan lahan bermain seperti waktu kecil, rasa malu, dan masih banyak alasan lain yang menyebabkan kegiatan fisik itu terhenti.
Sampai waktu yang cukup lama kegiatan fisik itu berhenti. Timbunan lemak makin memberati tubuh. Lalu kesempatan itu mulai muncul ketika anak-anak sudah mulai besar. Dan yang paling penting adalah mengalahkan diri sendiri. Mengalahkan kemalasan bangun pagi, mengalahkan kekhawatiran akan kejahatan yang mungkin terjadi di jalan, mengalahkan rasa menghawatirkan pikiran orang.
Olah raga yang saat ini paling murah dan mudah dilakukan adalah lari. Lari keliling kompleks. Track yang bisa dilalui cukup panjang, jadi sangat tergantung kepada kemauan dan kemampuan fisik mengikuti track lari itu. Aku cukup 1,5 KM saja, 10 menit tiap pagi. Bangun pukul 04.00, mempersiapkan diri untuk lari, sholat subuh dan langsung lari. Cukup 10 menit.
Ketika beberapa minggu dijalani, semua terasa ringan dan nyaman. Pada kesempatan pertama mengikuti marathon runmask, 3 km etape pertama bisa aku lalui dengan baik, sisanya jalan kaki. Tapi ketika mengikuti marathon lagi yang diselenggarakan dalam rangkan ulang tahun Uni Eropa 5,3 km berhasil kutempuh dalam waktu 40 menit, tanpa berhenti lari.
Yang terpenting adalah menjaga konsistensi. Kemauan untuk sehat harus juga didukung oleh kemauan keras untuk mengalahkan kemalasan. Kemalasan bangun pagi, kemalasan sendirian, kemalasan mengatasi rasa malu dan kemalasan yang selama ini dijadikan permakluman. 21 mei 2015
Rabu, 22 April 2015
Kulonprogo
:-) Kulonprogo, tak banyak orang tahu bahwa kabupaten sebelah barat sungai progo itu adalah bagian dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Ribuan orang datang tiap tahunnya ke DIY, tetapi jarang yang mau mampir sekedar mengenal kabupaten terluas kedua di DIY itu. Kenapa? Karena banyak orang tidak mengenalnya.
Ketika Bantul bisa menceritakan dalam lakon kethoprak pangeran senopati yang berasal dari Srandakan, lalu punya Imogiri, Sleman memiliki bandara dan Merapi, lalu Gunungkidul memiliki Manthos dan campur sari serta ratusan bahkan ribuan kaum urban yang selalu berbondong-bondong mudik lebaran, Kulonprogo tak pernah menceritakan apa-apa.
Meskipun ada Nyi Ageng Serang, pahlawan perempuan, panglima perang serupa Cut Nya' Dien, tapi kisahnya sayup bahkan hanya berupa bisikan yang tak mudah untuk di dengar.
Kulonprogo belum juga dkenal, meski sejak jaman Belanda dan tertera di peta kliripan sebagai penghasil mangan yang cukup besar. Sisa-sisa pertambangan itu masih ada, tokoh-tokoh pelakunya beberapa masih tersisa, sebagai buruh tambang, ataupun sebagai saksi dari kebesaran keluarga mandor buruh tambang.
Belakangan Kulonprogo mulai dikenal, karena rencananya bandara akan dipindah kesana, mengganti bandara adi sucipto yang sudah tidak memenuhi kriteria sebagai bandara internasional. Tapi senyatanya Kulonprogo bukan itu saja. Kulonprogo adalah destinasi wisata yang sangat indah dan ajaib. Kulonprogo memang tidak menghadirkan puluhan tempat belanja modern serupa mall, karena itu memang bukan kebutuhan, tapi Kulonprogo memiliki ratusan pengrajin batik, ratusan pengrajin tas rajut, dan juga penghasil produk-produk pertanian unggulan semisal kopi, teh, buah-buahan, durian, manggis, kesemek, sampai buah naga. Produk unggulan Kulonprogo gula merah, juga sudah didiversifikasi menjadi beberapa produk olahan pasca panen, seperti gulasemut sebagai bahan baku pembuatan kue, dan minuman, empon-empon menjadi pelengkap produk olahan.
Tujuan wisata di Kabupaten Kulonprogo tak kalah banyak. Waduk sermo yang dibangun dan diresmikan suharto adalah tempat wisata yang menarik. Luas waduk sermo dan posisinya yang berada di dekat hutan negara menjadikan sermo terkesan sangat cantik di pagi hari, ketika matahari bisa dilihat dari jembatan waduk dari arah timur, menyembul diatas bukit sedangsari pengasih, atau ketika matahari terbenam, warna keperakan permukaan sermo menjadi sangat menakjubkan sebelum matahari ditelan bukit menoreh sepanjang pegunungan kokap dan purworejo.
Diatas waduk sermo, tepatnya bukit-bukit pegunungan kokap, ada tempat wisata kalibiru. Sebuah tempat wisata yang menawarkan keindahan panorama daerah-daerah di bawah perbukitan. Kalibiru juga menyediakan tempat penginapan dan outbond. Semakin ke atas, masih disepanjang perbukitan menoreh, ada gunung kelir, bukit kapur yang tegak serupa kelir dalam wayang kulit. Dibawahnya ada mata air dan air terjun kembang soko. Semakin keatas ada goa-goa. Kisah sugriwa subali yang mati di dalam goa mewarnai legenda tentang goa Kiskenda di Girimulyo. Ada juga wisata reliji dengan goa Maria di Sendangsono dan juga arena rafting disepanjang sungai progo.
Sabtu, 11 April 2015
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Barat, Propinsi ini yang menjadi bagian gugusan pulau-pulau kecil menyambung dari Bali, sampai NTT, biasanya disebut sebagai Sunda Kecil. Di Propinsi inilah Tambora gunung api paling bersejarah yang konon mengubah wajah eropa hingga saat ini, membuat Indonesia dikenal sedunia. Gunung berapi dahsyat ini, letusan dahsyatnya 200 tahun lalu, ya g menyebabkan bumi gelap gulita oleh debunya selama beberapa waktu, menjadikan bencana yang menghentikan napoleon yang akan menginvasi Inggris. Dalam bencana itu juga memusnahkan h peradaban.
Tambora juga seringkali disebut sebagai penanda atlantis sebagaimana dikisahkan plato dalam bukunya. Dua pilar, gunung berapi besar yang di duga adalah krakatau dan tambora yang letusannya melantakkan dunia dalam kepingan-kepingan kecil, sehingga atlantis itu lenyap. Lalu banyak ahli membuat teori untuk meyakinkan bahwa atlantis itu adalah Indonesia. Belum lagi ketika dikaitkan dengan temuan perahu nuh yang ternyata terbuat dari kayu jati yang tumbuh di jawa.
Menapaki pulau-pulau kecil, selalu memberikan suguhan pemandangan surga. Berbeda dengan sumba yang terhampar savana, rupanya Tambora, rinjani menyuburkan tanah Lombok, Dompu dan pulau-pulau lainnya di NTB, sehingga air, pohon dan udara lebih terasa sejuk. Lahan pertanian dan perkebunan menghijau subur.
Lalu apakah kesuburan itu menyejahterakan? Itu juga yang sampai saat ini belum terfahami. Dengan potensi sumber alam yang melimpah baik di daratan ataupun di lautan, NTB memberikan banyak cerita tragis tentang perjuangan perempuan bekerja di negeri orang sebagai TKW. NTB juga membawa cerita sedih anak-anak indo hasil perkosaan. NTB juga memberi cerita tentang angka perkawinan anak yang menempati posisi tinggi di Indonesia. NTB juga memberikan banyak cerita tentang punggawa-punggawa yang memanfaatkan kemelaratan dan kebodohan rakyatnya untuk mengeruk keuntungan.
Ada seorang bapak yang dengan bangg menceritakan bahwa dia sudah sadar gender, karen lebih senang punya anak perempuan. Rupanya sang bapak merasa memiliki pundi-pundi uang, karena setelah usia 15 tahun dia sudah bisa mengirimkan anaknya untuk menjadi TKW. Perjuangan perempuan untuk mengais rejeki ini telah menghasilkan putaran uang yang tinggi di NTB, setidaknya 2.... sehari remitance yang dikirimkan dari luar negeri. Tetapi, penghargaan dan perlindungan terhadap nasip mereka tidak diberikan. Kasus-kasus perkosaan sampai kematian belum memberi pelajaran apapun bagi penguasa negeri ini untuk memastikan bahwa warganya aman bekerja di negara tujuan, memastikan bahwa PJTKI dan kepala-kepala desa, dinas tenaga kerja memastikan bahwa mereka memang benar-benar sudah siap bekerja.
Disebuah kampung kecil di Kabupaten Lombok Utara, sedikitnya ada lima anak hasil perkosaan dengan beragam warna kulit. Yang putih mereka memanggil dengan nama stigma arab, atau yordan, yang hitam mereka panggil dengan stigma India, negro dan lainnya.
Anak-anak yang justru seharusnya berada dalam dekap perlindungan orang tuanya, justru harus kehilangan keduanya, karena ayahnya adalah pemerkosa ibunya, dan Ibunya, karena stigma masyarakat memilih terus menjadi buruh migran, meski dia tahu persis itu tidak aman.
Ketika anak-anak ditempat lain menikmati masa remajanya, anak-anak remaja di NTB terjebak dalam pernikahan muda, entah karena alasan ekonomi, alasan menjaga kehormatan keluarga, alasan cinta dan sudah jodoh, anak-anak muda ini kehilangan masa bermainnya, kehilangan peluang mendapat pendidikan, kehilangan kesempatan mematangkan diri dengan cara yang sewajarnya. Banyak diantara mereka yang tiba-tiba harus masuk dalam dunia orang dewasa, menjadi orang tua muda.
Menarik pungutan untuk mengurus sendiri kartu jamkesmas dengan memberikan surat keterangan miskin, menarik pungutan untuk mengurs ktp, menarik pungutan dalam pengurusan akte kelahiran dan masih banyak lagi, banyak sekali dilakukan oleh lembaga-lembaga yang seharusnya memberikan layanan publik. Hadir untuk rakyat dan melayani rakyat.
Ditengah-tengah situasi getir itu, banyak anak-anak muda produktif yang tidak memiliki peluang kerja dan menjalani hari-harinya dengan nongkrong dan pergaulan yang negatif.
