Tahu terminologi kafir dzimmi dan kafir harbi sejak Aliyah, yang disampaikan oleh guru Fiqh. Tetapi sejak dulu sampai sekarang terminologi itu tidak pernah memperngaruhi cara pandangku terhadap orang-orang beda agama disekitarku. Buatku mereka ya sama saja denganku yang punya jalan keselamatannya sendiri. Karena buatku Tuhan bisa didekati dengan berbagai cara.
Terminologi kafir harbi (yang harus diperangi) malah muncul sebagai respon kelakuan para teroris, para koruptor yang ngerti agama tapi tidak merasa berdosa. Jangan-jangan mereka sedang merasa di Negara yang mereka kategorikan sebagai kafir harbi?
Buatku, inilah justru urgensi keputusan Munas NU tentang sebutan kafir kemaren menemukan urgensinya.
Sabtu, 02 Maret 2019
Kafir
Selasa, 18 September 2018
Nasip Si Elang
Papa dan pertanyaan tentang menstruasi
Ayahnya hanya bengong dan tersenyum geli, "nanti kalau ada mama, tanya mama saja. Papa tidak tahu" Jawabnya. Maka kami kehilangan moment memberikan penjelasan tentang alat dan fungsi reproduksi.
Miniset
Papanya hanya menatapnya prihatin. Mama, berurai air mata sampai membatin. "ini baru permulaan Nak, masih banyak siksaan lainnya karena kamu perempuan"
Kamis, 07 Juli 2016
Alumni M3R Meramaikan kebun Siwalan.
Emak-emak kekinian.
Kalau ditanya siapa emak-emak ini? Sebut saja emak-emak alumni M3R. Jauh-jauh hari kami janjian hari kedua lebaran akan ngumpul di Rembang. Titik kumpulnya belum ditentutkan. Hanya pas saya, nunung, Ida ketemu dalam acara tahlilan di rumah Ienas pada hari selasa 4 juli 2016, kami memtuskan tempat ngumpulnya di rumah Ienas Tsuroiya.
Mula-mula saya dan Aida Muchiqqoh jalan dulu ke rumahnya mbak Emy Zulfa, karena kebetulan murid paling rajin di kelas kami dulu itu tidak ikut di grup WA, kami mau ajak dia untuk hadir dalam pertemuan bersejarah hari ini. Sayangnya, rumah mbak Emy kosong. Saya dan Ida akhirnya menjadi pendatang paling awal di rumah Ienas disusul Fathimatuz Zahro', disusul Nunung Rembang lalu Atik dan anak perempuannya.
Pada saat yang sama ada mas Aguk Irawan Mn dan istrinya yang ternyata alumni kelas belajar islam toleran dan alternatifnya LKiS, juga sedang bertamu di rumah Ienas, jadilah kami emak-emak dari dua rombongan yang berbeda itu ngobrol bersama, sambil menunggu satu persatu kloter emak-emak kekinian datang.
Rombongan terakhir mbak Asiamah datang pas kami sedang menjalankan ritus rutin wefie di deoan aula. Setelah selesai berfoto rupanya ada kawan kesayangan kami lek siti marhamah ternyata masih ada di Sawahan, maka kami bersatu padu meyakinkan Lek Siti agar sudi bergabung. Dengan setengah memaksa saya menjemput lek siti di mulut gang Kulit Sawahan. Sayangnya dalam perjalanan pendek dari gang mulut gang kulit ke leteh rok lek siti masuk ke dalam rantai motor. Untungnya kami berdua tidak apa-apa hanya rok lek siti ujungnya robek disana sini.
Selepas solat dzuhur kami berburu legen di desa Mondoteko. Kami menyepakati untuk bergabung dalam mobil Fathimatuz zahro' dan tentunya sekaligus disopiri oleh Fathimah.
Sampai di Desa Mondoteko mencari legen atau nira bukan perkara mudah. Pada lokasi yang sama, kami bersaing dengan pembeli yang lain. Nira yang mau kami beli belum tersedia, penderesnya baru akan mengunduh niranya.
Ada dua penderes nira yang keduanya sudah berusia tua dalam ladang dengan puluhan pohon siwalan yang kami datangi. Anak-anak mereka sudah tidak memiliki keahlian yang sama dengan orang tuanya. "Anak-anak muda lebih senang cari kerja ke utara daripada melanjutkan pekerjaan orangtuanya sebagai penders nira" kata anak penderes nira yang juga menunggu di ladang yang kami datangi.
Menunggu penderes mengambil nira dari potongan bumbung-bumbung bambu di atas pohon siwalan, menjadi pengalaman menarik buat kami. Pohon siwalan yang batangnya jauh lebih besar dibanding pohon kelapa dipanjat dengan menggunakan tali sebagai pegangan bagi penderes karena lengannya tidak cukup untuk memeluk batang pohon. Sang istri menunggu di bawah dengan alat saringan dan beberapa bumbung bambu, swmentara ami menunggu dengan beberapa botol air kemasan untuk diisi dengan nira yang baru di turunkan.
Saya berharap para penderesnya tidak mimpi buruk malam ini karena kedatangan tamu heboh macam kami.
Setelah mendapatkan enam sowan guru matematika kami pak qusairi.
Perjalanan kami akhiri dengan kembali lagi ke rumah Ienas.
Semoga tahun depan kita bisa bertemu lagi.
Rabu, 04 Mei 2016
Nyala untuk Yuyun nyala untuk anak Indonesia
Saya benci pemerkosa Yuyun, seperti yang lain juga saya marah dan menangis untuk Yuyun. Menangis sambil melihat foto anak perempuan saya, dan juga melihat dua anak laki-laki saya.
Saya adalah salah satu dari ribuan orang tua yang memiliki anak yang oleh karena keadaan ekonomi tidak bisa dengan mudah selalu mendampingi anak-anak saya. Terus terang, dalam keluarga saya, saya dan suami saya bekerja. Jangan dengan mudah menuding saya egois ya, karena ribuan keluarga seperti saya ini ada, walaupun sudah dua-duanya bekerja, kami tidak pernah sampai pada tahab berlebihan, bisa menabung. Hidup kami juga masih dalam kategori sederhana.
Lalu bagaimana anak-anak saya? Anak-anak saya mungkin termasuk yang beruntung karena tinggal di pelosok desa, dimana semua tetangga turut menjadi orang tua mereka. Ketika mereka bermain masih dengan seragam, tetangga akan mengingatkan untuk ganti seragam dulu dan memastikan anak saya makan siang. Ketika sore hari, anak tetangga saya masih main di tempat saya, maka saya akan mengingatkan untuk segera pulang dan kalau diperlukan mengantarnya pulang.
Tetapi bagaimana dengan anak-anak yatim piatu sosial? (Meminjam istilahnya mbak Lies Marcoes). Anak-anak yang tidak seberuntung anak-anak saya, yang tidak seberuntung kelas menengah yang masih bisa membayar guru les, mengawasi anaknya sendiri, memasukkan dalam sekolah-sekolah penyaluran bakat dan lainnya?
Bagaimana dengan anak-anak yang tidak punya apa-apa dan siapa-siapa lagi? Anak-anak yang bahkan ruang bermain bolanya dirampas para pengusaha? Sungainya dipagari tinggi, masjidnya tidak boleh dihuni? Mereka anak-anak yang dibesarkan oleh teman-temannya sendiri, membangun kebanggan dengan banyak-banyakan gank? Atau anak-anak yang dibesarkan oleh game online?
Karrna itu, ketika semua orang mengutuk pemerkosa Yuyun, memintanya untuk dihukum mati, dikebiri dan balasan setimpal lainnya, sudahkah kita juga sudah mengutuk diri kita sendiri, yang selama ini telah turut serta membangun sistem sosial yang menjadikan anak-anak kita menjadi yatim piatu sosial? Sudahkah kita juga memikirkan, bagaimana agar tidak ada lagi anak-anak yatim sosial yang marah dan frustasi karena butuh perhatian?
Nyala untuk Yuyun, nyala untuk anak-anak Indonesia.
Hidayatut Thoyyibah
Jumat, 04 Maret 2016
Mengingat Pegunungan Karst Rembang ; Cerita kecil untuk anak-anakku
Karas, sebuah Desa disebelah barat Kecamatan Sedan, katanya disitu buyut kalian dilahirkan. Mbah Mahbub, namanya.
Di Karas itulah keluarga besar Mbah Mahbub tin, ada pak de dan bude yang masih tinggal di sana. Jadi sejak kecil ayahku, kakek kalian, sering membawaku kesana. di belakang rumah pak De Harun, dulu adalah hutan dengan pohon-pohon besar, rimbun dan sejuk. Dari ruang belakang rumah Pak De Harun, aku masih melihat banyak kera-kera ekor panjang melompat dari satu pohon kepohon yang lain, dari satu ranting ke ranting lainnya. kadang-kadang aku berjumpa mereka dibebatuan kering yang menonjol diantara aliran sungai di sebelah timur rumah Pak De. Mereka sedang duduk berjemur, saling mencari kutu. Aku dan sepupu-sepupuku, anak-anak kecil yang keranjingan main air akan serta merta menjadi pengganggu yang menyebalkan bagi mereka, karena dengan segera mereka kabur dari tempat itu. Tak kusangka, tak berapa lama ketika aku SMP mereka tak lagi pernah kujumpai. Mereka hilang, bersamaan dengan masa dimana senapan angin dikenal di daerah itu. Beberapa kali, dengan sedih aku melihat kera-kera yang sudah mati menggelantung di sepeda pemburunya.
Hutan, binatang liar, air sungai yang jernih adalah satu hal yang aku ingat, selain tentu saja, menunggu kendaraan umum lewat yang sangat jarang, kelelahan karena harus "sedikit" berjalan dari karas dan Sedan. Aku sedih membayangkan kalian tak pernah melihatnya, bahkan untuk membayangkannya.
Karas berada dalam gugus pegunungan karst sepanjang blora, pati sampai rembang. Sejak lama penambang tradisional mengambil batu kapurnya, tetapi mereka hanya menjualnya dalam pikulan. Dua keranjang, seharian. itupun hanya disaat penting, menjelang hari raya atau 17 agustusan. Kenapa? Untuk melabur rumah-rumah, agar tampak cerah, karena rumah-rumah masyarakat waktu itu terbuat dari kayu yang bisa ditanam kembali. Tidak butuh batu untuk membuatnya, tidak butuh semen.
Kini anakku, kerakusan manusia perlahan tapi pasti menciptakan kebutuhan agar bisa menghancurkan. Lihatlah rumah-rumah di sepanjang jalan sedan Kragan Rembang dimana rumah Pak De dan Bu Lek kalian tinggal. Mungkin hanya rumah mereka yang terbuat dari kayu. Lainnya mengubah wajahnya jadi batu. Untuk daerah pantai seperti disana betapa panasnya rumah batu?
Anakku membangun rumah dari batu, membuat jalan dari batu, bukan tidak ada tumbalnya. Banyak anakku, bahkan kalau anak-anak tumbal "pembangunan" itu dikumpulkan, kalian bertiga mungkin akan membutuhkan waktu seumur hidup untuk mencatat luka kemelaratan yang mereka alami.
Bukit-bukit Karst menyimpan banyak keajaiban anakku, dulu waktu mama remaja, pernah suatu saat main ke Sule. di daerah itu, dibawah pepohonan hutan, ada goa besar. Diperutnya yang gelap, aku pernah merasakan air dingin mengalir di kakiku. Waktu masuk kesana aku takut, karena sinar tidak masuk kedalam, dan kami tidak menyangka akan bertemu sungai bawah tanah dalam perjalanan kami. Sumber penerangan yang sangat terbatas hanya dimiliki beberapa remaja lain yang saat itu sudah merokok. Mereka menggunakan korek apinya untuk menerangi sungai itu. Bayangan kolam luas yang sempat tertangkap mata itu begitu menakjubkan. Meski takut disaat itu, tetapi kenangan itu sekarang begitu berharga, begitu indah.
Saat ini, Bukit Kendeng di daerah sekitar Sale Rembang, (semoga bukan di daearah yang pernah kudatangi) di bagian pegunungan karst lainnya yang masih berfungsi bagai spon pengisap dan penyimpan air hujan akan dihancurkan oleh perusahaan pembuat semen. Anakku, kalau ini benar terjadi aku yakin kalian tak akan pernah melihatnya lagi. Sebuah keajaiban akan menghilang. Keajaibannya untuk menghidupi para petani, kejaibannya untuk memberi pasokan air bersih bagi warga masyarakat akan menghilang. Seperti warga Sedan yang dimusim kemarau harus berburu air bersih, karena sumur-sumur mereka mengering, karena bukit-bukit yang mereka punya telah dibabat habis atas nama pembangunan.
Saat ini, masyarakat Kendeng sedang mempertahankan alamnya, tanahnya, bukitnya, hutannya dan sumber penghidupannya. Mari kita menjadi bagian dari mereka, semampu kita.
Peluk cium,
Asa, Elang, Anya
Jakarta, 19042016

