Sabtu, 02 Maret 2019

Kafir

Tahu terminologi kafir dzimmi dan kafir harbi sejak Aliyah, yang disampaikan oleh guru Fiqh. Tetapi sejak dulu sampai sekarang terminologi itu tidak pernah memperngaruhi cara pandangku terhadap orang-orang beda agama disekitarku. Buatku mereka ya sama saja denganku yang punya jalan keselamatannya sendiri. Karena buatku Tuhan bisa didekati dengan berbagai cara.
Terminologi kafir harbi (yang harus diperangi) malah muncul sebagai respon kelakuan para teroris, para koruptor yang ngerti agama tapi tidak merasa berdosa. Jangan-jangan mereka sedang merasa di Negara yang mereka kategorikan sebagai kafir harbi?
Buatku, inilah justru urgensi keputusan Munas NU tentang sebutan kafir kemaren menemukan urgensinya.

Selasa, 18 September 2018

Nasip Si Elang

Waktu duduk di sekolah dasar aku rasa tidak merasa aneh dengan namaku. Nama-nama di daerah utara pesisir jawa memang sarat dengan nama-nama arab, meskipun sebagian besar hanya satu kata, dan tetap dalam lidah jawa, Kumisah, Ijasah, Jasilah, Jalil. Nama-nama jawa juga bertaburan. Sama dengan pemilik nama arab, yaitu hanya sure name saja, seperti wartiah, karminah, jasmi, Rukmini, Supiyah.
Nama-nama orang tua teman sekolahku sebagian besar juga nama jawa, seperti Lek Tarminah, Kasmidi, Ndiman, Kait.
Diantara nama-nama tunggal, sebagian kecil temanku ada juga yang bernama panjang seperti, Endang Karmiasih, Endang Setyowati, Anna Rosdiana.
Namaku termasuk nama yang sulit. Aku ingat baru bisa menulis namaku dengan benar ketika secara khusus ayahku mengingatkan karena sebentar lagi akan kelas enam dan nama yang ada di Ijazah harus benar.
Pada waktu itu aku baru punya perhatian tentang nama-nama. Hidayatut Thoyyibah, petunjuk yang baik. Pada awalnya aku hanya menulis toyibah, tanpa h dan y. Dan itu salah kata ayahku. Maka dikelas lima dengan hati-hati kutulis namaku dengan sempurna. Sejak saat itu, nama menjadi hal yang sensitif buatku.
Lalu aku mulai memiliki anak sendiri.  Memberi nama menjadi seni tersendiri. Mulai dari berkompromi dengan pasangan,  memadupadankan nama-nama tokoh kesayangan, membaca buku sejarah dan beberapa ihtiar lainnya untuk mendapatkan nama yang benar-benar cocok. 

Lalu Elang lahir, anak keduaku ini lahir pada hari Rabu Pahing. Ayahnya menyingkat namanya menjadi Boing. Lalu teringatlah kami pada jenis pesawat berbadan besar Boing, lalu kami ingat Garuda dan akhirnya kami sepakat memilih nama Elang. Nama lain Elang selain Garuda adalah Raja Wali. Sebagai pengikut Tariqah, ayahnya juga pengagum sang Raja Wali yang setiap saat ditawasuli; yaitu Syaih Abdul Qadir Jaelani. 

Tapi apa daya, di kampung Ibuku produk rantang makanan yang dikenal pertamakali adalah Elang. Mereka menyebut rantang makanan itu dengan sebutan elang. Maka ketika aku mengenalkan anakku pada mbah De nya, mbah Denya berkata "Da..anak kok dinamakan Elang" katanya menyesalkan "koyo rantang wae" lanjutnya. 


Papa dan pertanyaan tentang menstruasi

Saya Ibu bekerja,  dan pekerjaan saya beberapa kali harus berada di luar daerah yang menyebabkan saya jauh dari keluarga. 
Karena itulah kualitas kedekatan anak perempuan saya yang saat ini berusia 10 tahun dengan ayahnya lebih kental dibanding dengan saya
.
Selain sering tidak berada di rumah,  cara saya dididik dulu juga berbeda dengan cara suami di didik.  Jadilah saya simbol penegak disiplin dan suami saya simbol pembebas.  Saya pengatur uang ketat, suami saya loma (murah hati).
Jadilah suami saya lebih dekat kepada anaknya, terutama jika minta uang jajan tambahan atau minta diajak jalan-jalan. 
Anak perempuan saya paling dekat dengan Bapaknya.  Sebenarnya kedekatan itu juga disebabkan oleh keyakinan gender yang tumbuh di masyarakatnya bahwa "anak perempuan adalah anak ayahnya hanya sampai mereka menikah dan anak laki-laki akan selamanya jadi anak Ibunya". Sampai sekarang sayapun tidak faham maksudnya apa.  Seringkali saya ingin membantah misalnya dengan berkata "ya jangan kawinkan anak perempuanmu,  biar selamanya jadi anakmu". Tapi saya tidak pernah tega,  takut jadi doa mustajab,  sementara itu bukan pilihan anak saya misalnya. 
Benar saja,  beberapa waktu lalu ayahnya dibuat bingung,  ketika anak perempuannya bertanya "Pa tanda-tandanya kalau menstruasi itu seperti apa sih?"
Ayahnya hanya bengong dan tersenyum geli,  "nanti kalau ada mama,  tanya mama saja.  Papa tidak tahu" Jawabnya.  Maka kami kehilangan moment memberikan penjelasan tentang alat dan fungsi reproduksi.
Sendang,  29 januari 2018

Miniset

Usianya sudah 10 tahun,  wajar jika payudaranya mulai tumbuh, meskipun belum menstruasi. 
Mamanya sudah membelikannya miniset sejak usianya 8 tahun.  Maklum sebagai ibu bekerja yang jarang di rumah,  dia khawatir kebutuhan personal anak perempuan tidak difahami suaminya.
Tapi miniset itu hanya disimpan saja,  sampai ketika tetangga mulai menyatakan bahwa anak gadis itu sudah tumbuh payudaranya. 
Papanya yang akhirnya menyampaikan ke anak perempuannya untuk memakai miniset yang sudah dibelikan Mamanya. 
Dengan wajah kesal pada seluruh dunia dia menjawab ketus.  "makai miniset itu enggak enak ya,  tidak nyaman.  Gatal di sini" sambil menunjuk bawah ketiaknya
"papa enak tidak harus memakainya"
Papanya hanya menatapnya prihatin.  Mama, berurai air mata sampai membatin.  "ini baru permulaan Nak,  masih banyak siksaan lainnya karena kamu perempuan"
Sendang,  28 Januari 2018

Kamis, 07 Juli 2016

Alumni M3R Meramaikan kebun Siwalan.

Emak-emak kekinian.

Kalau ditanya siapa emak-emak ini? Sebut saja emak-emak alumni M3R. Jauh-jauh hari kami janjian hari kedua lebaran akan ngumpul di Rembang. Titik kumpulnya belum ditentutkan. Hanya pas saya, nunung, Ida ketemu dalam acara tahlilan di rumah Ienas pada hari selasa 4 juli 2016, kami memtuskan tempat ngumpulnya di rumah Ienas Tsuroiya.

Mula-mula saya dan Aida Muchiqqoh jalan dulu ke rumahnya mbak Emy Zulfa,  karena kebetulan murid paling rajin di kelas kami dulu itu tidak ikut di grup WA, kami mau ajak dia untuk hadir dalam pertemuan bersejarah hari ini. Sayangnya, rumah mbak Emy kosong. Saya dan Ida akhirnya menjadi pendatang paling awal di rumah Ienas disusul Fathimatuz Zahro', disusul Nunung Rembang lalu Atik dan anak perempuannya.

Pada saat yang sama ada mas Aguk Irawan Mn dan istrinya yang ternyata alumni kelas belajar islam toleran dan alternatifnya LKiS, juga sedang bertamu di rumah Ienas, jadilah kami emak-emak dari dua rombongan yang berbeda itu ngobrol bersama, sambil menunggu satu persatu kloter emak-emak kekinian datang.

Rombongan terakhir mbak Asiamah datang pas kami sedang menjalankan ritus rutin wefie di deoan aula. Setelah selesai berfoto rupanya ada kawan kesayangan kami lek siti marhamah ternyata masih ada di Sawahan, maka kami bersatu padu meyakinkan Lek Siti agar sudi bergabung. Dengan setengah memaksa saya menjemput lek siti di mulut gang Kulit Sawahan. Sayangnya dalam perjalanan pendek dari gang mulut gang kulit ke leteh rok lek siti masuk ke dalam rantai motor. Untungnya kami berdua tidak apa-apa hanya rok lek siti ujungnya robek disana sini.

Selepas solat dzuhur kami berburu legen di desa Mondoteko. Kami menyepakati untuk bergabung dalam mobil Fathimatuz zahro' dan tentunya sekaligus disopiri oleh Fathimah.

Sampai di Desa Mondoteko mencari legen atau nira bukan perkara mudah. Pada lokasi yang sama, kami bersaing dengan pembeli yang lain. Nira yang mau kami beli belum tersedia, penderesnya baru akan mengunduh niranya.

Ada dua penderes nira yang keduanya sudah berusia tua dalam ladang dengan puluhan pohon siwalan yang kami datangi. Anak-anak mereka sudah tidak memiliki keahlian yang sama dengan orang tuanya. "Anak-anak muda lebih senang cari kerja ke utara daripada melanjutkan pekerjaan orangtuanya sebagai penders nira" kata anak penderes nira yang juga menunggu di ladang yang kami datangi.

Menunggu penderes mengambil nira dari potongan bumbung-bumbung bambu di atas pohon siwalan, menjadi pengalaman menarik buat kami. Pohon siwalan yang batangnya jauh lebih besar dibanding pohon kelapa dipanjat dengan menggunakan tali sebagai pegangan bagi penderes karena lengannya tidak cukup untuk memeluk batang pohon. Sang istri menunggu di bawah dengan alat saringan dan beberapa bumbung bambu, swmentara ami menunggu dengan beberapa botol air kemasan untuk diisi dengan nira yang baru di turunkan.

Saya berharap para penderesnya tidak mimpi buruk malam ini karena kedatangan tamu heboh macam kami.
Setelah mendapatkan enam  sowan guru matematika kami pak qusairi.
Perjalanan kami akhiri dengan kembali lagi ke rumah Ienas.

Semoga tahun depan kita bisa bertemu lagi.

Rabu, 04 Mei 2016

Nyala untuk Yuyun nyala untuk anak Indonesia

Saya benci pemerkosa Yuyun, seperti yang lain juga saya marah dan menangis untuk Yuyun. Menangis sambil melihat foto anak perempuan saya, dan juga melihat dua anak laki-laki saya.

Saya adalah salah satu dari ribuan orang tua yang memiliki anak yang oleh karena keadaan ekonomi tidak bisa dengan mudah selalu mendampingi anak-anak saya. Terus terang, dalam keluarga saya, saya dan suami saya bekerja. Jangan dengan mudah menuding saya egois ya, karena ribuan keluarga seperti saya ini ada, walaupun sudah dua-duanya bekerja, kami tidak pernah sampai pada tahab berlebihan, bisa menabung. Hidup kami juga masih dalam kategori sederhana.

Lalu bagaimana anak-anak saya? Anak-anak saya mungkin termasuk yang beruntung karena tinggal di pelosok desa, dimana semua tetangga turut menjadi orang tua mereka. Ketika mereka bermain masih dengan seragam, tetangga akan mengingatkan untuk ganti seragam dulu dan memastikan anak saya makan siang. Ketika sore hari, anak tetangga saya masih main di tempat saya, maka saya akan mengingatkan untuk segera pulang dan kalau diperlukan mengantarnya pulang.

Tetapi bagaimana dengan anak-anak yatim piatu sosial? (Meminjam istilahnya mbak Lies Marcoes). Anak-anak yang tidak seberuntung anak-anak saya, yang tidak seberuntung kelas menengah yang masih bisa membayar guru les, mengawasi anaknya sendiri, memasukkan dalam sekolah-sekolah penyaluran bakat dan lainnya?

Bagaimana dengan anak-anak yang tidak punya apa-apa dan siapa-siapa lagi? Anak-anak yang bahkan ruang bermain bolanya dirampas para pengusaha? Sungainya dipagari tinggi, masjidnya tidak boleh dihuni? Mereka anak-anak yang dibesarkan oleh teman-temannya sendiri, membangun kebanggan dengan banyak-banyakan gank? Atau anak-anak yang dibesarkan oleh game online?

Karrna itu, ketika semua orang mengutuk pemerkosa Yuyun, memintanya untuk dihukum mati, dikebiri dan balasan setimpal lainnya, sudahkah kita juga sudah mengutuk diri kita sendiri, yang selama ini telah turut serta membangun sistem sosial yang menjadikan anak-anak kita menjadi yatim piatu sosial? Sudahkah kita juga memikirkan, bagaimana agar tidak ada lagi anak-anak yatim sosial yang marah dan frustasi karena butuh perhatian?

Nyala untuk Yuyun, nyala untuk anak-anak Indonesia.

Hidayatut Thoyyibah

Jumat, 04 Maret 2016

Mengingat Pegunungan Karst Rembang ; Cerita kecil untuk anak-anakku

Karas, sebuah Desa disebelah barat Kecamatan Sedan, katanya disitu buyut kalian dilahirkan. Mbah Mahbub, namanya. 
Di Karas itulah keluarga besar Mbah Mahbub tin, ada pak de dan bude yang masih tinggal di sana. Jadi sejak kecil ayahku, kakek kalian, sering membawaku kesana. di belakang rumah pak De Harun, dulu adalah hutan dengan pohon-pohon besar, rimbun dan sejuk. Dari ruang belakang rumah Pak De Harun, aku masih melihat banyak kera-kera ekor panjang melompat dari satu pohon kepohon yang lain, dari satu ranting ke ranting lainnya. kadang-kadang aku berjumpa mereka dibebatuan kering yang menonjol diantara aliran sungai di sebelah timur rumah Pak De. Mereka sedang duduk berjemur, saling mencari kutu. Aku dan sepupu-sepupuku, anak-anak kecil yang keranjingan main air akan serta merta menjadi pengganggu yang menyebalkan bagi mereka, karena dengan segera mereka kabur dari tempat itu. Tak kusangka, tak berapa lama ketika aku SMP mereka tak lagi pernah kujumpai. Mereka hilang, bersamaan dengan masa dimana senapan angin dikenal di daerah itu. Beberapa kali, dengan sedih aku melihat kera-kera yang sudah mati menggelantung di sepeda pemburunya.
 
Hutan, binatang liar, air sungai yang jernih adalah satu hal yang aku ingat, selain tentu saja, menunggu kendaraan umum lewat yang sangat jarang, kelelahan karena harus "sedikit" berjalan dari karas dan Sedan. Aku sedih membayangkan kalian tak pernah melihatnya, bahkan untuk membayangkannya.
 
Karas berada dalam gugus pegunungan karst sepanjang blora, pati sampai rembang. Sejak lama penambang tradisional mengambil batu kapurnya, tetapi mereka hanya menjualnya dalam pikulan. Dua keranjang, seharian. itupun hanya disaat penting, menjelang hari raya atau 17 agustusan. Kenapa? Untuk melabur rumah-rumah, agar tampak cerah,  karena rumah-rumah masyarakat waktu itu  terbuat dari kayu yang bisa ditanam kembali. Tidak butuh batu untuk membuatnya, tidak butuh semen.
 
Kini anakku, kerakusan manusia perlahan tapi pasti menciptakan kebutuhan agar bisa menghancurkan. Lihatlah rumah-rumah di sepanjang jalan sedan Kragan Rembang dimana rumah Pak De  dan Bu Lek kalian tinggal. Mungkin hanya rumah mereka yang terbuat dari kayu. Lainnya mengubah wajahnya jadi batu. Untuk daerah pantai seperti disana betapa panasnya rumah batu? 
 
Anakku membangun rumah dari batu, membuat jalan dari batu, bukan tidak ada tumbalnya. Banyak anakku, bahkan kalau anak-anak tumbal "pembangunan" itu dikumpulkan, kalian bertiga mungkin akan membutuhkan waktu seumur hidup untuk mencatat luka kemelaratan yang mereka alami.
 
Bukit-bukit Karst menyimpan banyak keajaiban anakku, dulu waktu mama remaja, pernah suatu saat main ke Sule. di daerah itu, dibawah pepohonan hutan, ada goa besar. Diperutnya yang gelap, aku pernah merasakan air dingin mengalir di kakiku. Waktu masuk kesana aku takut, karena sinar tidak masuk kedalam, dan kami tidak menyangka akan bertemu sungai bawah tanah dalam perjalanan kami. Sumber penerangan yang sangat terbatas hanya dimiliki beberapa remaja lain yang saat itu sudah merokok. Mereka menggunakan korek apinya untuk menerangi sungai itu. Bayangan kolam luas yang sempat tertangkap mata itu begitu menakjubkan. Meski takut disaat itu, tetapi kenangan itu sekarang begitu berharga, begitu indah.
 
Saat ini, Bukit Kendeng di daerah sekitar Sale Rembang, (semoga bukan di daearah yang pernah kudatangi) di bagian pegunungan karst lainnya yang masih berfungsi bagai spon pengisap dan penyimpan air hujan akan dihancurkan oleh perusahaan pembuat semen. Anakku, kalau ini benar terjadi aku yakin kalian tak akan pernah melihatnya lagi. Sebuah keajaiban akan menghilang. Keajaibannya untuk menghidupi para petani, kejaibannya untuk memberi pasokan air bersih bagi warga masyarakat akan menghilang. Seperti warga Sedan yang dimusim kemarau harus berburu air bersih, karena sumur-sumur mereka mengering, karena bukit-bukit yang mereka punya telah dibabat habis atas nama pembangunan.
 
Saat ini, masyarakat Kendeng sedang mempertahankan alamnya, tanahnya, bukitnya, hutannya dan sumber penghidupannya. Mari kita menjadi bagian dari mereka, semampu kita. 
 
Peluk cium,
Asa, Elang, Anya
 
Jakarta, 19042016